dexstaralexsanderyounglex


PEREKONOMIAN INDONESIA


Analisis Perekonomian Daerah Kota Surakarta


Dosen Pengampu :
Fauziah, SE., MM.








Oleh :

RAGIL SATRIO ADEPUTRA SIDDHARTHA
17510026

Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2019












KATA PENGANTAR


Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat serta hidayahnya, penulis dapat menyusun Makalah “Analisis Potensi Daerah Kota Surabaya”. Tidak lupa sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW kepada para keluarga, sahabat maupun umatnya. Tidak lupa ucapan terimakasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan analisis ini.
            
Penyusunan makalah “Analisis Potensi Daerah Kota  Surakarta” ini bertujuan agar pembacanya dapat memperoleh wawasan  baru tentang keadaan ekonomi yang ada di Kota Surakarta. Dalam penyusunannya penulis tidak sedikit menghadapi hambatan dan rintangan, namun dengan penuh kesabaran dan dorongan dari berbagai pihak, penyusunan makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Kami telah berusaha melakukan penyusunan laporan ini sebaik dan sesempurna mungkin. Namun kami menyadarai bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya dan dalam upaya pengetahuan mengenai Ekonomi Daerah.


















Malang , 20 Maret 2019


Penulis

DAFTAR ISI


Kata Pengantar………………………………………………………………….               
Daftar Isi…………………………………………………………………………               
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang………………………………………………………                    
Rumusan Masalah…………………………………………………..                     
Tujuan Penulisan……………………………………………………                     
Manfaat Penulisan…………………………………………………..                     
BAB II PEMBAHASAN
 Gambaran Umum Objek Penelitian……………………………….                    
 Analisis Pelaksanaan Otonomi Dan Pembangunan Ekonomi Daerah…..        
 Analisis PDRB……………………………………………………………….        
 Analisis Kemiskinan…………………………………………………….…..        
 Analisis Kependudukan, Ketenagakerjaan, Dan Pengangguran………          
 Analisis Pemasukan Dan Pengeluaran Pemerintah Kota Surakarta                                    (APBD)………………………………………………………………………         
Analisis Pariwisata Kota Surakarta ………………………………………….
 Analisis Perkembangan Lapangan Usaha………………………………..          
 Analisis Kebijakan Ekonomi Tingkat Daerah Kota Surakarta………….        
 Permasalahan Utama  Ekonomi Kota Surakarta Dan Solusinya………..        
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………     
3.2 Saran………………………………………………………………………..     
Daftar Pustaka………………………………………………………………………….    

















                                                `
BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tepat saat ini sangat diperlukan bagi pembangunan suatu kota. Kota Surakarta sebagai kota yang memiliki posisi yang strategi hal itulah yang menguntungkan dalam pengembangan ekonomi dan membuka peluang investasi di Kota Surakarta. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam untuk menindak lanjuti perkembangan perekonomian Kota Surakarta agar dapat diperoleh pedoman dalam penerapan kebijakan pengembangan perekonomian secara nyata. Pedoman tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan potensi perekonomian yang ada, dan mengatasi permasalahan pengembangan perekonomian Kota Surakarta

1.2 Rumusan Masalah
     
1.      Bagaimana pelaksanaan otonomi daerah di Kota Surakarta ?
2.      Apa masalah utama kondisi ekonomi Kota Surakarta dan bagaimana Solusinya ?
3.      Bagaimana gambaran tentang kondisi ekonomi Kota Surakarta
4.      Apa saja potensi atau sektor yang diunggulkan Kota Surakarta

1.2  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini untuk memberi wawasan kepada khalayak masyarakat umum khususnya pembaca tentang kondisi perekonomian di Kota Surakarta, terlebih  apabila pemerintah tertarik untuk membaca tulisan ini maka penulis senantiasa merasa tulisan “membantu” memberikan informasi kepada pemerinta khususnya pemerintah Kota Surakarta. Jawa tengah
1.3  Manfaat Penulisan
1.      Mengetahui bagaimana pelaksanaan otonomi daerah di Kota Surakarta.
2.      Mengetahui bagaimana solusi dalam menghadapi kondisi perekononomian di Kota Surakarta
3.      Mengetahui gambaran riil mengenai kondisi ekonomi masyarakat Kota Surakarta
4.      Mengetahui potensi yang dimilik oleh Kota Surakarta











BAB II
     PEMBAHASAN

1.Gambaran Umum Kota Surakarta
 Surakarta terletak antara 110° 45’ 15”dan 110°45’ 35” Bujur Timur dan antara 7°36’ dan 7°56’ Lintang Selatan.Surakarta adalah salah satu kota besar . Wilayah Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan “Kota Solo” merupakan dataran rendah dengan ketinggian ± 92 m dari permukaan laut.
Luas wilayah Kota Surakarta adalah 44,06 Km² dan secara administrasi terbagi menjadi 5 (wilayah administrasi kecamatan, 51 kelurahan, 602 Rukun Warga (RW) dan 2.708 Rukun Tetangga (RT). Perbatasan administrasi wilayah Kota Surakarta, menurut RTRW Kota Surakarta 2007-2026 adalah sebagai berikut.
Ø    SebelahUtara        : Kabupaten Boyolali danKaranganyar;
Ø    SebelahTimur        : Kabupaten Karanganyar danSukoharjo;
Ø    SebelahSelatan     : KabupatenSukoharjo;
Ø    SebelahBarat        : Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar danBoyolali
Tabel 2.1  
Pembagian wilayah Adminsitrasi Kota Surakarta

Kecamatan
Kelurahan
Luas Wilayah
RW
RT
(Km2)
Laweyan
11
8,64
105
457
Serengan
7
3,19
72
312
Pasar Kliwon
9
4,82
100
422
Jebres
11
12,58
151
646
Banjarsari
13
15,81
176
877
Kota Surakarta
51
44,06
604
2.714
Sumber: Bagian Pemerintahan Umum Setda Kota Surakarta, 2016
             Gambar 2.1 Peta Kota Surakarta

A         Sumber Daya Manusia
1.    Demografi
Jumlah penduduk Kota Surakarta pada tahun 2015 berdasarkan data Dispendukcapil berjumlah 557.606 jiwa. Dari jumlah tersebut penduduk laki-laki jumlahnya lebih rendah dibandingkan penduduk perempuan. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 275.266 jiwa, sedangkan penduduk perempuan sejumlah 282.340 jiwa. Dengan porsi tersebut maka sex rasio penduduk di Kota Surakarta adalah 97,49 atau dapat diartikan bahwa di setiap 100 penduduk perempuan terdapat 97 penduduk laki-laki.
Persebaran penduduk di Kota Surakarta tidak merata, antara kecmatan yang satu dengan yang lain. Kecamatan Banjarsari merupakan kecamatan yang memliki jumlah penduduk terbesar, yaitu 175.648 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 86.540 jiwa dan perempuan sebesar 89.108 jiwa.Kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terkecil adalah Kecamatan Serengan, dengan jumlah penduduk sebesar 53.974 jiwa, dimana jumlah penduduk laki-laki sebesar 26.440 jiwa dan perempuan sebesar 27.534 jiwa. Berikut jumlah penduduk Kota Surakarta dirinci setiap kecamatan.
Tabel 2.2        
Jumlah Penduduk Kota Surakarta Per Kecamatan
Tahun 2011-2015

No
Kecamatan
Jumlah Penduduk
2011
2012
2013
2014
2015
1
Laweyan
86.666
87.104
87.520
109.264
101.291
2
Serengan
43.962
44.185
44.396
61.179
53.974
3
Pasar Kliwon
74.792
75.171
75.529
91.772
84.517
4
Jebres
139.026
139.730
140.398
148.442
142.176
5
Banjarsari
158.420
159.223
159.982
175.379
175.648

Kota Surakarta
502.866
505.413
507.825
586.036
557.606
Sumber: Kota Surakarta Dalam Angka dan data Dispendukcapil Kota Surakarta, 2016

KepadatanPenduduk Kota Surakarta Pada tahun 2015 sebesar 12.661 Jiwa/km2, meningkatdari tahun sebelumnya (2014) yang tercatat  sebesar 11.585 jiwa/km2.. Meningkatnya jumlah penduduk ini disebabkan oleh kelahiran, migrasi dan pertumbuhan ekonomi. Secara rinci pertumbuhan penduduk kota Surakarta dari tahun 2011-2015 bisa dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.3        
Pertumbuhan Penduduk Kota Surakarta Tahun 2011-2015

No
Variabel
2011
2012
2013
2014
2015
1        
Jumlah penduduk
502.866
505.413
507.825
510.077
557.606
2        
Laki-laki
244.562
245.805
246.982
248.066
275.266
3        
Perempuan
258.304
259.608
260.843
262.011
282.340
4        
Laju Pertumbuhan
0,54
0,50
0,47
0,44
0,32
5        
Rasio Jenis kelamin
97,41
96,59
97,15
94,64
94,69
6        
KepadatanPenduduk (jiwa/km2)
11.421
11.479
11.534
11.585
12.661
Sumber:Surakarta Dalam Angka dan data Dispendukcapil Kota Surakarta, 2016


Berdasarkan kelompok umur, penduduk Kota Surakarta pada tahun 2015 yang paling banyak terdapat pada umur 30-34 yaitu sebesar 47.052, dengan jumlah laki-laki sebanyak 23.555 jiwa dan jumlah perempuan sebanyak 23.497 jiwa. Jika dikaitkan dengan kelompok umur nampak bahwa proporsi penduduk perempuan yang lebih besar berada pada kelompok-kelompok umur tua. Secara rinci penduduk kota Surakarta menurut kelompok umur tahun 2014-2015 bisa dilihat pada tabel di bawah ini.




Tabel 2.4        
Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur
Tahun 2014-2015

Usia (th)
2014
2015
Jenis Kelamin
Jumlah
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
0-4
18.626
17.092
35.718
18.921
18.377
37.298
5 – 9
18.855
18.672
37.527
22.283
20.881
43.164
10 – 14
19.353
20.233
39.586
21.970
21.184
43.154
15 – 19
21.489
22.036
42.525
21.810
21.338
43.148
20 – 24
24.112
23.756
47.868
21.244
20.460
41.704
25 – 29
21.604
22.009
43.613
19.948
19.825
39.773
30 – 34
19.235
20.025
39.260
23.555
23.497
47.052
35 – 39
18.733
19.495
38.228
23.505
23.441
46.946
40 – 44
17.561
19.314
36.875
20.917
21.460
42.377
45 – 49
16.778
18.970
35.748
19.814
21.061
40.875
50 – 54
16.032
17.954
33.986
17.290
19.445
36.735
55 – 59
13.256
14.140
27.396
15.381
16.717
32.098
60 – 64
8.619
9.117
17.736
11.700
12.028
23.728
65+
13.813
19.198
33.011
6.715
7.721
14.436
Sumber:Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta, 2015, diolah

B         Kondisi Perekonomian
1.  Pertumbuhan PDRB
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menjadi salah satu indikator untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah dalam suatu periode tertentu. Penghitungan PDRB dilakukan atas dasar harga berlaku (harga-harga pada tahun penghitungan) dan atas dasar harga konstan (harga-harga pada tahun yang dijadikan tahun dasar penghitungan) untuk dapat melihat pendapatan yang dihasilkan dari lapangan usaha (sektoral) maupun dari sisi penggunaan.
Nilai PDRB Kota Surakarta berdasarkan harga konstan 2010 (ADHK 2010) menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. PDRB ADHK pada tahun 2015 tercatat sebesar 28,43 triliun rupiah, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 26,96 triliun rupiah. Secara kumulatif peningkatan PDRB ADHK 2010 dari tahun 2010 ke tahun 2015 mencapai Rp6,957 triliun rupiah. Angka PDRB dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dengan berbagai variasi. Hal ini dapat dimaklumi karena ada kebijakan-kebijakan yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi perekonomian yang ada. Laju pertumbuhan ekonomi dua tahun terakhir mulai membaik. Rata-rata pertumbuhan ekonomi selama 5 tahun terakhir adalah 5,77%.






PDRB Per Kapita ADHK 2010 juga mengalami peningkatan. Pendapatan per kapita pada tahun 2015 mencapai Rp55,61 juta/tahun, sedangkan pada tahun 2014 hanya Rp52,96 juta/tahun. Rata-rata pertumbuhan per kapita PDRB 5,28%. Dengan meningkatnya pendapatan perkapita, diharapkan dapat mencerminkan peningkatan kesejahteraan di masyarakat.
Kontribusi per sektoral atau kategori pada PDRB dari tahun 2010 sampai 2015 masih didominasi oleh sektor/kategori konstruksi, sektor/kategori perdagangan besar dan eceran, dan sektor/kategori komunikasi dan informasi. Pada tahun 2010, sektor/kategori kontruksi menyumbang sebesar 27,06%, disusul perdagangan besar dan eceran sebesar 22,58% dan berikutnya sektor informasi dan komunikasi sebesar 11,36%. Meskipun merupakan sektor/kategori dominan selama lima tahun, namun kontribusi tiga sektor/kategori tersebut menunjukkan kecenderungan menurun. Pada tahun 2015, kontribusi sektor/kategori konstruksi menyumbang 27,06%, sektor/kategori perdagangan besar dan eceran sebesar 22,58%, dan sektor/kategori komunikasi dan informasi sebesar 10,63%.
Sektor/kategori yang meningkat kontribusinya adalah sektor/kategori jasa keuangan dan asuransi serta sektor/kategori penyediaan akomodasi dan makan minum. Selama lima tahun terakhir menunjukkan tren positif. Kontribusi sektor/kategori jasa keuangan dan asuransi meningkat dari 3,65% pada tahun 2010 menjadi 3,84% pada tahun 2015. Sektor/kategori penyediaan akomodasi dan makan minum menunjukkan perkembangan meningkat sejak tahun 2010 hingga 2015. Pada tahun 2010 menyumbang 4,87% meningkat menjadi 5,80% pada tahun 2015.
Sektor/kategori yang lain relatif tidak berubah kontribusinya adalah sektor/kategori pertanian, pertambangan dan penggalian, dan industri pengolahan. Sektor/kategori pertanian memiliki kendala keterbatasan lahan, sektor ini relatif hanya memanfaatkan lahan yang tersedia dan tidak dimungkinkan adanya perkembangan. Kontribusi sektor pertanian yang cenderung bertahan di 0,52% adalah capaian di tengah tekanan perubahan alih fungsi lahan.


2. Laju Inflasi
Laju inflasi di Kota Surakarta tahun 2015 sebesar 2,56% mengalami penurunan yang cukup besar dibandingkan tahun 2014 sebesar 8,01%. Di Kota Surakarta tahun tahun 2014 mencapai 8,01%, sedikit lebih rendah dari tahun 2013 sebesar 8,32%. Besarnya inflasi Kota Surakarta disebabkan seluruh indeks kelompok pengeluaran mengalami kenaikan terutama kenaikan indeks kelompok bahan makanan dan indeks kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, masing-masing naik sebesar 12,49% dan 12,17%. Inflasi tertinggi terjadi pada bulan Desember dipengaruhi oleh adanya kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, sehingga ongkos angkut komoditas bahan makanan dan alat transportasi masyarakat mengalami peningkatan.  Secara rinci laju inflasi di Kota Surakarta tahun 2011-2015 bisa dilihat pada grafik di bawah ini.
Sumber: BPS Kota Surakarta, April 2016

           Gambar 2.2  Perbandingan Laju Inflasi Kota Surakarta dengan Jawa Tengah dan Nasional tahun 2011-2015

Beberapa komoditas mengalami kenaikan harga selama tahun 2014 sehingga memicu terjadinya inflasi antara lain: beras, cabe hijau, cabe rawit, cabe merah, rokok kretek filter, tukang bukan mandor, tarif listrik, bahan bakar rumah tangga, angkutan antarkota, angkutan umum dalam kota, angkutan udara dan bensin. Sebaliknya, komoditas yang manghambat tingginya inflasi yaitu daging ayam ras, petai, apel, bawang merah, kelapa, minyak goreng, dan gula pasir.
Dibandingkan dengan nasional, inflasi Kota Surakarta tahun 2014 sebesar 8,01% lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 8,36%, dan inflasi Provinsi Jawa Tengah sebesar 8,22%. Dibandingkan enam kota di Provinsi Jawa Tengah yang dihitung angka inflasinya, inflasi Kota Surakarta lebih rendah dibandingkan Kudus, Kota Semarang dan Cilacap, dan lebih tinggi dibandingkan Purwokerto dan Kota Tegal, seperti terlihat pada Grafik di bawah ini.
Sumber:B PS Kota Surakarta, 2016

           Gambar 2.3  Perbandingan Inflasi Kota Surakarta dengan Kota/kab Lain Di Jawa Tengah dan Nasional Tahun 2015

C         Kondisi Kesejahteraan Masyarakat
Kondisi umum kemiskinan di Kota Surakarta dapat digambarkan dengan beberapa indikator. Indikator-indikator tersebut adalah Tingkat Kemiskinan, Jumlah Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan.

1. Tingkat Kemiskinan
Kondisi umum kemiskinan di Kota Surakarta dapat digambarkan dengan beberapa indikator. Indikator-indikator tersebut adalah tingkat kemiskinan, jumlah penduduk miskin, garis kemiskinan, indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan.
Tingkat kemiskinan Kota Surakarta pada tahun 2014 adalah sebesar 10,95 %. Capaian ini sudah cukup baik karena berada di bawah rata-rata capaian Provinsi Jawa Tengah sebesar 10,96 % dan berada di bawah capaian Nasional yaitu 13,58%. Apabila dibandingkan dengan lima kota lainnya di Jawa Tengah seperti Kota Magelang, Salatiga, Semarang, Pekalongan, dan Tegal, angka kemiskinan di Kota Surakarta masih tertinggi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
 









  Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Surakarta 2016

   Gambar 2.4          Perbandingan presentase kemiskinan Kota Surakarta dengan Kabupaten/Kota Lain di Jawa Tengah Tahun 2014

Dalam kurun waktu 2011-2014, perkembangan tingkat kemiskinan Kota Surakarta menunjukkan tren penurunan. Tahun 2014, tingkat kemiskinan Kota Suakarta sebesar 10,95% lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tingkat kemiskinan tertinggi terjadi pada tahun 2011 dengan angka kemiskinan sebesar 12,90%. Penurunan tingkat kemiskinan searah dengan jumlah penduduk miskin yang menurun di Kota Surakarta. Tren positif tingkat kemiskinan Kota Surakarta ditunjukkan dari tahun 2011-2014 dengan tren menurun setiap tahunnya.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik berikut.
Sumber : BPS kota Surakarta 2016

           Gambar 2.5  Grafik Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin  dan Tingkat Kemiskinan Kota Surakarta Tahun 2011-2014

Dilihat dari sisi efektifitasnya, capaian tingkat kemiskinan Kota Surakarta sudah terlihat efektif, meskipun penurunan capaian tidak terlalu besar. Hal ini bisa dilihat karena dalam tahun 2011-2014 angka kemiskinan di Kota Surakarta setiap tahunnya mengalami perbaikan. Hal ini mengindikasikan kinerja penurunan angka kemiskinan bekerja dengan baik.Dengan menurunnya angka kemiskinan pada tahun 2014, ini menunjukkan adanya relevansi capaian dan kinerja angka kemiskinan di Kota Surakarta terhadap target capaian angka kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah maupun nasional.

2. Garis Kemiskinan
Garis kemiskinan terdiri atas garis kemiskinan makanan dan non makanan.Garis kemiskinan makanan merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori per kapita perhari.Sedangkan garis kemiskinan bukan makanan adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Pada tahun 2014, garis kemiskinan Kota Surakarta adalah sebesar Rp.417.807, lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata garis kemiskinan Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp.261.880. Sementara itu apabila disandingkan dengan garis kemiskinan kota lainnya di Jawa Tengah, garis kemiskinan Kota Surakarta terlihat paling besar. Ini menunjukkan biaya hidup di Kota Surakarta lebih mahal jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Jawa Tengah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik di bawah ini.
Sumber : Kota Surakarta Dalam Angka, 2016
Gambar 2.6Grafik Posisi Relatif Garis Kemiskinan Kota Surakarta Tahun 2014

Sementara itu dilihat dari perkembangannya, garis kemiskinan di Kota Surakarta terlihat meningkat cukup signifikan dalam rentang waktu 2011-2014. Pada Tahun 2014 garis kemiskinan di Kota Surakarta  sebesar Rp.417.807. Ada peningkatan selama kurun waktu tersebut. Lebih jelasnya dapat dilihat melalui grafik berikut ini.
Sumber : BPS kota Surakarta 2016

               Gambar 2.7          Grafik Perkembangan Garis Kemiskinan Kota Surakarta
Tahun 2014

Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Tiga komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan baik di daerah perkotaan maupun di daerah perdesaan adalah beras dan rokok kretek filter. Sementara itu pada urutan ketiga, terdapat telur ayam di wilayah perkotaan dan gula pasir diwilayah perdesaan. Komoditi bukan makanan yang berpengaruh besar terhadap Garis Kemiskinan di daerah perkotaan adalah biaya perumahan dan pendidikan, sedangkan di daerah perdesaan adalah biaya perumahan.
Sampai saat ini di kantor BPS kabupaten/kota tidak menyiapkan atau menyediakan angka konsumsi yang dominan membentuk perilaku konsumen. Untuk itu sebagai gambaran dapat disampaikan komponen-komponen yang dominan membentuk garis kemiskinan Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut.
Tabel 2.5        
Daftar Komoditi  Makanan yang Memberi Pengaruh Besar pada Kenaikan Garis Kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014
Jenis Komoditi
Perkotaan (%)
Jenis Komoditi
Perdesaan (%)
Beras
25,14
Beras
32,89
Rokok kretek filter
9,68
Rokok kretek filter
8,64
Telur ayam ras
3,43
Gula pasir
3,36
Daging ayam ras
2,81
Telur ayam ras
2,77
Mie instan
2,56
Mie instan
2,42
Gula pasir
2,33
Tempe
2,00
Tempe
2,30
Bawang merah
1,82
Tahu
2,07
Tahu
1,68
Bawang merah
1,55
Cabe rawit
1,57
Kopi
1,28
Kopi
1,53
Sumber: BPS Jawa Tengah, 2014


D         Pariwisata Kota Surakarta
Kota Surakarta atau yang lebih dikenal dengan Kota Solo merupakan salah satu kota yang terkenal dengan batik dan keratonnya di Jawa Tengah. Kota Surakarta merupakan salah satu Kota yang kaya akan potensi sumber daya pariwisatanya. Destinasi pariwisata yang ditawarkan di Kota Surakarta juga sangat beragam, diantaranya wisata religi, wisata alam, wisata geologi, taman rekreasi dan beberapa desa wisata. Sosok keraton yang menjadi simbol budaya Jawa, sampai saat ini  masih kokoh eksistensinya baik secara fisik, komunitas maupun ritualnya. Selain wisata budaya, terdapat pula beberapa tempat dan event-event kebudayaan lain yang menarik untuk dinikmati.
Beberapa obyek wisata di Kota Surakarta terdiri dari spesifikasi wisata budaya, wisata pendidikan, wisata sejarah, wisata belanja, dan wisata kuliner. Wisata budaya yang dapat dikunjungi di Kota Surakarta misalnya Wayang Orang Sriwedari, Ketoprak, Kirap Pusaka 1 Suro, Grebeg Sudiro, Grebeg Mulud. Semua wisata budaya yang dapat dijumpai di Kota Surakarta tersebut dipelihara dan dijaga oleh masyarakat sebagai warisan budaya yang dimiliki Kota Surakarta. Sedangkan wisata sejarah yang dapat dikunjungi di Kota Surakarta antara lain: Museum Radya Pustaka, Museum Batik Wuryaningratan, Museum Reksa Pustaka, Monumen Pers, Keraton Surakarta Hadiningrat, Pura Mangkunegaran, Benteng Vastenburg (Arsip Disbudpar Kota Surakarta: Inventaris Data Wisata Budaya dan Wisata Sejarah Kota Surakarta tahun 2011).
Sektor pariwisata di Kota Surakarta mempunyai potensi pertumbuhan yang sangat besar yang pengembangannya perlu direalisasikan agar bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Pemasaran pariwisata Kota Surakarta yang dilakukan dengan besar-besaran bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisata. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah kunjungan wisata antara tahun 2010 hingga tahun 2015 yaitu meningkat dari 1.945.632 orang pada Tahun 2010 menjadi 4.142.785 orang pada Tahun 2015. Berikut data pengunjung obyek wisata di Kota Surakarta Tahun 2012-2014.
Tabel 2.6      
Banyaknya Pengunjung Obyek Wisata di Kota Surakarta Tahun 2012-2014

No
Objek Wisata
2012
2013
2014
Wisman
Wisnus
Wisman
Wisnus
Wisman
Wisnus
1
Kraton Kasunanan 
810
47.331
1.504
66.652
5.251
63.410
2
Mangkunegaran
23.413
27.051
19.650
17.678
19.934
24.720

3
Musium Radya Pustaka
3.092
13.500
520
6.996
686
7.750

4
Taman Sriwedari
5.039
-
6.995
-
-
-
5
W.O Sriwedari
136
27.222
250
29.644

169
31.094
6
THR. Sriwedari
46
309.391
73
355.798
34
308.916
7
Musium Batik
1.177
12.601
1.220
109.417
1.759
13.275
8
Taman Satwataru

272.197
-
326.338
-
305.295
9
Taman Balekambang
2.084
1.387.832
288
1.541.665
782
2.482.002
Jumlah
35.797
2.097125
30.500
2.454.188
28.615
3.236.462
     Sumber : Surakarta Dalam Angka, 2015

Berdasarkan rancangan teknokratik tentang rencana induk pembangunan kepariwisataan kota surakarta tahun 2016 -2026 bahwa Kota Surakarta dibagi terbagi dalam Kawasan Strategis Pariwisata yang selanjutnya disingkat KSP, dimana merupakan kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata Daerah yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan.
                      Gambar 2.8   Peta Kawasan Strategis Pariwisata Kota Surakarta

Dalam rangka mengembangkan potensi pariwisata di Kota Surakarta, dibutuhkan kerjasama dan sinergitas yang baik antara berbagai pihak, termasuk di dalamnya adalah pihak pemerintah, swasta serta masyarakat.

Analisis Kebijakan Ekonomi Tingkat Daerah Kota Surakarta
Meningkatnya pertumbuhan sektor informal disebabkan karena tidak membutuhkan pendidikan tinggi, modal besar atau pengalaman kerja. Dari segi pendidikan misalnya, pada umumnya karena memiliki tingkat pendidikan menengah ke bawah. Meskipun demikian bukan berarti tidak ada pekerja sektor informal yang memiliki tingkat pendidikan baik. Seperti halnya peraturan perundangundangan yang berlaku secara umum di Negara Indonesia, Provinsi serta Kabupaten/Kota pada khususnya, Kota surakarta juga membuat suatu peraturan perundang-undangan atau yang disebut dengan Peraturan Daerah (Perda) yang berkaitan dengan Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL). Perda yang dimaksud adalah Perda No. 02 Tahun 2013 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima di Kota Surakarta, Perda ini dibuat dalam rangka menata dan menertibkan PKL yang berada di beberapa tempat strategis wilayah Kota Surakarta. Tempat-tempat strategis yang biasa ditempati PKL tersebut seperti pinggir-pinggir (bahu) jalan, trotoar, dan beberapa pasar yang berada di Kota Surakarta. Perda Penataan dan Pemberdayaan PKL bertujuan untuk menjaga stabilitas daerah berkaitan dengan kelancaran lalu lintas,stabilitas sosial yang berkaitan dengan pemakaian fasilitas dan ruang publik seperti bahu jalan, trotoar dan menjaga keindahan dan keasrian KotaSurakarta serta berupaya mengatur segala bentuk kegiatan PKL baik penataan tempat maupun alokasi waktu.
Permasalahan Utama  Ekonomi Kota Surakarta Dan Solusinya
1. Minat investasi lebih besar pada wilayah Kota Surakarta di bagian utara dari pada Kawasan Timur.
2. Kualitas komoditas  peternakan, pertanian, perkebunan dan kehutanan serta produk olahannya belum optimal.
3. Inovasi masyarakat untuk mengembangkan produk dan usaha mereka sangat kurang.
4. Kurang terintegrasi dan berkelanjutannya program dan kegiatan yang dilakukan SKPD.
5. Kurangnya moda transportasi umum memperlambat arus tenaga kerja, modal, barang dan jasa antar kecamatan
Rendahnya SDM untuk pembangunan ekonomi
Solusi menghadapi pemasalahan ekonomi:
1. Branding Kawasan Barat sebagai pusat pengembangan komoditas dan olahan hasil perikanan dan peternakan.,Promosi Kawasan Barat sebagai Tujuan Investasi dan Produk-produk Unggulan Potensial, Pemasangan papan promosi Kawasan Barat dan potensinya, Membangun e-marketing.
2. Membangun sentra produksi dan pemasaran komoditas perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan dan kehutanan dan industri olahan di jalur utama.
3. Peningkatan kapasitas SDM agar lebih inovatif produktif sehingga mampu menghasilkan produk yang bermutu.
4. Meningkatkan sinkronisasi dan koordinasi program dan kegiatan agar lebih terintegrasi dan berkelanjutan serta mengikat komitmen SKPD untuk konsisten terhadap dokumen perencanaan (RPJPD, RPJMD, RTRW, hasil-hasil kajian, hasil musrenbang dan Forum SKPD) dengan membangun system.
5. Peningkatan infrastruktur dan moda transportasi antar kecamatan untuk mengintegrasikan ekonomi antar kecamatan dalam satu kawasan.
6. Peningkatan kapasitas SDM agar lebih inovatif produktif sehingga mampu menghasilkan produk yang bermutu, Pelatihan keterampilan hidup,Pelatihan Penggunaan Teknologi Tepat Guna bagi UMKM, Sertifikasi Profesi, Peningkatan Partisipasi Sekolah.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Angka pertumbuhan Kota Surakarta dapat dikatakan fluktuatif . Namun dari segi anggaran dari tahun 2013-2017 , Kota Surakarta dapat dikatakan sehat atau baik . Dikarenakan pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada pengeluarannya. Sektor-sektor lapangan pekerjaan pun dapat dikatakan baik karena minatnya masyarakat untuk produktif hingga angka pengangguran pun dapat ditekan.
Hal seperti ini merupakan harapan negara agar desentralisasi untuk selalu menyiapkan dengan segala cara dari Walikota,DPRD,MPRD,dan Masyarakat.
3.2 Saran
Mengkaji permasalahan ekonomi dari tingkat desentralisasi yang menjadi acuan di sentralisasi . Baik dari segi kacamata mikro maupun





DAFTAR PUSTAKA

https://surakartakota.bps.go.id/publication/2018/08/16/c3a56b56c074228d1b0e90e0/kota-surakarta-dalam-angka-2018.html

Komentar