dexstaralexsanderyounglex
PEREKONOMIAN INDONESIA
Analisis Perekonomian
Daerah Kota Surakarta
Dosen Pengampu :
Fauziah, SE., MM.
Oleh :
RAGIL SATRIO ADEPUTRA
SIDDHARTHA
17510026
Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2019
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur
kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat serta
hidayahnya, penulis dapat menyusun Makalah “Analisis
Potensi Daerah Kota Surabaya”. Tidak lupa sholawat serta salam tetap
tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW kepada para keluarga,
sahabat maupun umatnya. Tidak lupa ucapan terimakasih kami ucapkan kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan analisis ini.
Penyusunan makalah “Analisis Potensi
Daerah Kota Surakarta” ini bertujuan agar pembacanya dapat
memperoleh wawasan baru tentang keadaan ekonomi yang ada
di Kota Surakarta. Dalam penyusunannya penulis tidak sedikit menghadapi
hambatan dan rintangan, namun dengan penuh kesabaran dan dorongan dari berbagai
pihak, penyusunan makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu.
Kami telah berusaha
melakukan penyusunan laporan ini sebaik dan sesempurna mungkin. Namun kami
menyadarai bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang
bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat
memberikan manfaat bagi pembacanya dan dalam upaya pengetahuan mengenai
Ekonomi Daerah.
Malang , 20 Maret 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar………………………………………………………………….
Daftar
Isi…………………………………………………………………………
BAB
I PENDAHULUAN
Latar Belakang………………………………………………………
Rumusan
Masalah…………………………………………………..
Tujuan
Penulisan……………………………………………………
Manfaat
Penulisan…………………………………………………..
BAB
II PEMBAHASAN
Gambaran Umum Objek Penelitian……………………………….
Analisis Pelaksanaan Otonomi Dan Pembangunan
Ekonomi Daerah…..
Analisis PDRB……………………………………………………………….
Analisis Kemiskinan…………………………………………………….…..
Analisis
Kependudukan, Ketenagakerjaan, Dan Pengangguran………
Analisis Pemasukan Dan Pengeluaran
Pemerintah Kota Surakarta (APBD)………………………………………………………………………
Analisis Pariwisata Kota Surakarta
………………………………………….
Analisis Perkembangan Lapangan Usaha………………………………..
Analisis Kebijakan Ekonomi Tingkat Daerah Kota
Surakarta………….
Permasalahan Utama
Ekonomi Kota Surakarta Dan Solusinya………..
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan…………………………………………………………………
3.2
Saran………………………………………………………………………..
Daftar Pustaka………………………………………………………………………….
`
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tepat saat ini sangat
diperlukan bagi pembangunan suatu kota. Kota Surakarta sebagai
kota yang memiliki posisi yang strategi hal itulah yang menguntungkan
dalam pengembangan ekonomi dan membuka peluang investasi di Kota
Surakarta. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam untuk
menindak lanjuti perkembangan perekonomian Kota Surakarta agar dapat diperoleh
pedoman dalam penerapan kebijakan pengembangan perekonomian secara nyata.
Pedoman tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan potensi perekonomian yang ada,
dan mengatasi permasalahan pengembangan perekonomian Kota Surakarta
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
pelaksanaan otonomi daerah di Kota Surakarta ?
2.
Apa
masalah utama kondisi ekonomi Kota Surakarta dan bagaimana Solusinya ?
3.
Bagaimana
gambaran tentang kondisi ekonomi Kota Surakarta
4.
Apa
saja potensi atau sektor yang diunggulkan Kota Surakarta
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan makalah ini untuk memberi wawasan kepada khalayak masyarakat umum
khususnya pembaca tentang kondisi perekonomian di Kota Surakarta, terlebih apabila pemerintah tertarik untuk membaca tulisan
ini maka penulis senantiasa merasa tulisan “membantu” memberikan informasi
kepada pemerinta khususnya pemerintah Kota Surakarta. Jawa tengah
1.3 Manfaat Penulisan
1. Mengetahui bagaimana
pelaksanaan otonomi daerah di Kota Surakarta.
2. Mengetahui bagaimana solusi
dalam menghadapi kondisi perekononomian di Kota Surakarta
3. Mengetahui gambaran riil
mengenai kondisi ekonomi masyarakat Kota Surakarta
4. Mengetahui potensi yang
dimilik oleh Kota Surakarta
BAB
II
PEMBAHASAN
1.Gambaran Umum
Kota Surakarta
Surakarta terletak antara 110° 45’ 15”dan
110°45’ 35” Bujur Timur dan antara 7°36’ dan 7°56’ Lintang Selatan.Surakarta
adalah salah satu kota besar . Wilayah Kota Surakarta atau lebih
dikenal dengan “Kota Solo” merupakan dataran rendah dengan ketinggian ± 92 m
dari permukaan laut.
Luas
wilayah Kota Surakarta adalah 44,06 Km² dan secara administrasi terbagi menjadi 5 (wilayah
administrasi kecamatan, 51 kelurahan, 602 Rukun Warga (RW) dan 2.708 Rukun
Tetangga (RT). Perbatasan administrasi wilayah Kota Surakarta, menurut RTRW
Kota Surakarta 2007-2026 adalah sebagai berikut.
Ø
SebelahUtara : Kabupaten Boyolali danKaranganyar;
Ø
SebelahTimur : Kabupaten Karanganyar danSukoharjo;
Ø
SebelahSelatan : KabupatenSukoharjo;
Ø
SebelahBarat : Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar danBoyolali
Tabel 2.1
Pembagian
wilayah Adminsitrasi Kota Surakarta
Kecamatan
|
Kelurahan
|
Luas Wilayah
|
RW
|
RT
|
(Km2)
|
||||
Laweyan
|
11
|
8,64
|
105
|
457
|
Serengan
|
7
|
3,19
|
72
|
312
|
Pasar Kliwon
|
9
|
4,82
|
100
|
422
|
Jebres
|
11
|
12,58
|
151
|
646
|
Banjarsari
|
13
|
15,81
|
176
|
877
|
Kota Surakarta
|
51
|
44,06
|
604
|
2.714
|
Sumber:
Bagian Pemerintahan Umum Setda Kota Surakarta, 2016

Gambar 2.1 Peta
Kota Surakarta
A
Sumber Daya Manusia
1.
Demografi
Jumlah penduduk Kota Surakarta pada tahun 2015
berdasarkan data Dispendukcapil berjumlah 557.606 jiwa. Dari jumlah tersebut
penduduk laki-laki jumlahnya lebih rendah dibandingkan penduduk perempuan.
Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 275.266 jiwa, sedangkan penduduk perempuan
sejumlah 282.340 jiwa. Dengan porsi tersebut maka sex rasio penduduk di Kota
Surakarta adalah 97,49 atau dapat diartikan bahwa di setiap 100 penduduk
perempuan terdapat 97 penduduk laki-laki.
Persebaran penduduk di Kota Surakarta tidak merata, antara kecmatan yang
satu dengan yang lain. Kecamatan Banjarsari merupakan kecamatan yang memliki jumlah penduduk terbesar, yaitu 175.648 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 86.540 jiwa dan perempuan sebesar 89.108 jiwa.Kecamatan yang memiliki jumlah
penduduk terkecil adalah Kecamatan
Serengan, dengan jumlah penduduk sebesar 53.974 jiwa, dimana jumlah penduduk laki-laki sebesar 26.440
jiwa dan perempuan sebesar 27.534 jiwa. Berikut jumlah penduduk Kota
Surakarta dirinci setiap kecamatan.
Tabel 2.2
Jumlah Penduduk Kota Surakarta Per Kecamatan
Tahun 2011-2015
No
|
Kecamatan
|
Jumlah Penduduk
|
||||
2011
|
2012
|
2013
|
2014
|
2015
|
||
1
|
Laweyan
|
86.666
|
87.104
|
87.520
|
109.264
|
101.291
|
2
|
Serengan
|
43.962
|
44.185
|
44.396
|
61.179
|
53.974
|
3
|
Pasar
Kliwon
|
74.792
|
75.171
|
75.529
|
91.772
|
84.517
|
4
|
Jebres
|
139.026
|
139.730
|
140.398
|
148.442
|
142.176
|
5
|
Banjarsari
|
158.420
|
159.223
|
159.982
|
175.379
|
175.648
|
Kota Surakarta
|
502.866
|
505.413
|
507.825
|
586.036
|
557.606
|
|
Sumber:
Kota Surakarta Dalam Angka dan data Dispendukcapil Kota Surakarta, 2016
KepadatanPenduduk Kota Surakarta Pada tahun 2015 sebesar 12.661
Jiwa/km2, meningkatdari
tahun sebelumnya (2014) yang tercatat sebesar
11.585 jiwa/km2.. Meningkatnya jumlah penduduk
ini disebabkan oleh kelahiran, migrasi dan pertumbuhan ekonomi. Secara rinci pertumbuhan penduduk kota
Surakarta dari tahun 2011-2015 bisa dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.3
Pertumbuhan
Penduduk Kota Surakarta Tahun 2011-2015
No
|
Variabel
|
2011
|
2012
|
2013
|
2014
|
2015
|
1
|
Jumlah penduduk
|
502.866
|
505.413
|
507.825
|
510.077
|
557.606
|
2
|
Laki-laki
|
244.562
|
245.805
|
246.982
|
248.066
|
275.266
|
3
|
Perempuan
|
258.304
|
259.608
|
260.843
|
262.011
|
282.340
|
4
|
Laju Pertumbuhan
|
0,54
|
0,50
|
0,47
|
0,44
|
0,32
|
5
|
Rasio Jenis kelamin
|
97,41
|
96,59
|
97,15
|
94,64
|
94,69
|
6
|
KepadatanPenduduk (jiwa/km2)
|
11.421
|
11.479
|
11.534
|
11.585
|
12.661
|
Sumber:Surakarta Dalam Angka
dan data Dispendukcapil Kota Surakarta, 2016
Berdasarkan kelompok umur,
penduduk Kota Surakarta pada tahun 2015
yang paling banyak terdapat pada umur 30-34 yaitu
sebesar 47.052, dengan jumlah laki-laki sebanyak 23.555 jiwa dan jumlah
perempuan sebanyak 23.497 jiwa. Jika dikaitkan dengan kelompok umur nampak bahwa
proporsi penduduk perempuan yang lebih besar berada pada kelompok-kelompok umur
tua. Secara rinci penduduk kota
Surakarta menurut kelompok umur tahun 2014-2015 bisa dilihat pada tabel di
bawah ini.
Tabel 2.4
Penduduk Kota
Surakarta Menurut Kelompok Umur
Tahun 2014-2015
Usia (th)
|
2014
|
2015
|
||||
Jenis
Kelamin
|
Jumlah
|
Jenis
Kelamin
|
Jumlah
|
|||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
|||
0-4
|
18.626
|
17.092
|
35.718
|
18.921
|
18.377
|
37.298
|
5 – 9
|
18.855
|
18.672
|
37.527
|
22.283
|
20.881
|
43.164
|
10 – 14
|
19.353
|
20.233
|
39.586
|
21.970
|
21.184
|
43.154
|
15 – 19
|
21.489
|
22.036
|
42.525
|
21.810
|
21.338
|
43.148
|
20 – 24
|
24.112
|
23.756
|
47.868
|
21.244
|
20.460
|
41.704
|
25 – 29
|
21.604
|
22.009
|
43.613
|
19.948
|
19.825
|
39.773
|
30 – 34
|
19.235
|
20.025
|
39.260
|
23.555
|
23.497
|
47.052
|
35 – 39
|
18.733
|
19.495
|
38.228
|
23.505
|
23.441
|
46.946
|
40 – 44
|
17.561
|
19.314
|
36.875
|
20.917
|
21.460
|
42.377
|
45 – 49
|
16.778
|
18.970
|
35.748
|
19.814
|
21.061
|
40.875
|
50 – 54
|
16.032
|
17.954
|
33.986
|
17.290
|
19.445
|
36.735
|
55 – 59
|
13.256
|
14.140
|
27.396
|
15.381
|
16.717
|
32.098
|
60 – 64
|
8.619
|
9.117
|
17.736
|
11.700
|
12.028
|
23.728
|
65+
|
13.813
|
19.198
|
33.011
|
6.715
|
7.721
|
14.436
|
Sumber:Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota
Surakarta, 2015, diolah
B
Kondisi
Perekonomian
1. Pertumbuhan PDRB
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menjadi salah satu indikator untuk
mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah dalam suatu periode tertentu.
Penghitungan PDRB dilakukan atas dasar harga berlaku (harga-harga
pada tahun penghitungan) dan atas dasar harga konstan (harga-harga
pada tahun yang dijadikan tahun dasar penghitungan) untuk dapat melihat
pendapatan yang dihasilkan dari lapangan usaha (sektoral) maupun dari sisi
penggunaan.
Nilai PDRB Kota Surakarta berdasarkan harga konstan 2010 (ADHK 2010) menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. PDRB
ADHK pada tahun 2015 tercatat
sebesar 28,43 triliun rupiah, meningkat dari tahun
sebelumnya sebesar 26,96 triliun rupiah. Secara kumulatif
peningkatan PDRB ADHK 2010
dari tahun 2010 ke tahun 2015 mencapai Rp6,957 triliun rupiah. Angka PDRB dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dengan
berbagai variasi. Hal ini dapat dimaklumi karena ada kebijakan-kebijakan yang
berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi perekonomian yang
ada. Laju pertumbuhan ekonomi dua tahun terakhir mulai membaik. Rata-rata
pertumbuhan ekonomi selama 5 tahun terakhir adalah 5,77%.
PDRB Per
Kapita ADHK 2010 juga
mengalami peningkatan. Pendapatan per kapita pada tahun 2015 mencapai Rp55,61 juta/tahun, sedangkan pada tahun 2014 hanya Rp52,96 juta/tahun.
Rata-rata pertumbuhan per kapita PDRB 5,28%. Dengan meningkatnya pendapatan
perkapita, diharapkan dapat mencerminkan peningkatan kesejahteraan di
masyarakat.
Kontribusi per sektoral
atau kategori pada PDRB dari tahun 2010 sampai 2015
masih didominasi oleh sektor/kategori konstruksi, sektor/kategori perdagangan
besar dan eceran, dan sektor/kategori komunikasi dan informasi. Pada tahun
2010, sektor/kategori kontruksi menyumbang sebesar 27,06%, disusul perdagangan
besar dan eceran sebesar 22,58% dan berikutnya sektor informasi dan komunikasi
sebesar 11,36%. Meskipun merupakan sektor/kategori dominan selama lima tahun,
namun kontribusi tiga sektor/kategori tersebut menunjukkan kecenderungan
menurun. Pada tahun 2015, kontribusi sektor/kategori konstruksi menyumbang
27,06%, sektor/kategori perdagangan besar dan eceran sebesar 22,58%, dan
sektor/kategori komunikasi dan informasi sebesar 10,63%.
Sektor/kategori yang meningkat kontribusinya adalah
sektor/kategori jasa keuangan
dan asuransi serta sektor/kategori penyediaan akomodasi dan makan minum. Selama
lima tahun terakhir menunjukkan tren positif. Kontribusi sektor/kategori jasa
keuangan dan asuransi meningkat dari 3,65% pada tahun 2010 menjadi 3,84% pada
tahun 2015. Sektor/kategori penyediaan akomodasi dan makan minum menunjukkan
perkembangan meningkat sejak tahun 2010 hingga 2015. Pada tahun 2010 menyumbang
4,87% meningkat menjadi 5,80% pada tahun 2015.
Sektor/kategori yang lain relatif tidak berubah
kontribusinya adalah sektor/kategori pertanian, pertambangan dan penggalian,
dan industri pengolahan. Sektor/kategori
pertanian memiliki kendala keterbatasan lahan, sektor ini relatif hanya
memanfaatkan lahan yang tersedia dan tidak dimungkinkan adanya perkembangan.
Kontribusi sektor pertanian yang cenderung bertahan di 0,52% adalah capaian di
tengah tekanan perubahan alih fungsi lahan.
2. Laju Inflasi
Laju
inflasi di Kota Surakarta tahun 2015 sebesar 2,56% mengalami penurunan yang
cukup besar dibandingkan tahun 2014 sebesar 8,01%. Di Kota Surakarta tahun
tahun 2014 mencapai 8,01%, sedikit lebih rendah dari tahun 2013 sebesar 8,32%.
Besarnya inflasi Kota Surakarta
disebabkan seluruh indeks kelompok pengeluaran mengalami kenaikan terutama kenaikan indeks
kelompok bahan makanan dan indeks kelompok transportasi, komunikasi dan jasa
keuangan, masing-masing naik sebesar 12,49% dan 12,17%. Inflasi tertinggi
terjadi pada bulan Desember dipengaruhi oleh adanya kebijakan pemerintah
menaikkan harga BBM, sehingga ongkos angkut komoditas bahan makanan dan alat
transportasi masyarakat mengalami peningkatan.
Secara rinci laju inflasi di Kota Surakarta tahun 2011-2015 bisa dilihat
pada grafik di bawah ini.
Sumber: BPS Kota Surakarta,
April 2016
Gambar 2.2 Perbandingan Laju Inflasi Kota Surakarta
dengan Jawa Tengah dan Nasional tahun 2011-2015
Beberapa komoditas mengalami kenaikan harga selama
tahun 2014 sehingga memicu
terjadinya inflasi antara lain: beras, cabe hijau, cabe rawit, cabe merah,
rokok kretek filter, tukang bukan mandor, tarif listrik, bahan bakar rumah
tangga, angkutan antarkota, angkutan umum dalam kota, angkutan udara dan bensin. Sebaliknya, komoditas yang manghambat
tingginya inflasi yaitu daging ayam ras, petai, apel, bawang merah, kelapa,
minyak goreng, dan gula pasir.
Dibandingkan dengan nasional, inflasi Kota Surakarta
tahun 2014 sebesar 8,01% lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar
8,36%, dan inflasi Provinsi Jawa Tengah sebesar 8,22%. Dibandingkan enam kota
di Provinsi Jawa Tengah yang
dihitung angka inflasinya, inflasi Kota Surakarta lebih rendah dibandingkan
Kudus, Kota Semarang dan Cilacap, dan lebih tinggi dibandingkan Purwokerto dan
Kota Tegal, seperti terlihat pada Grafik di bawah ini.

Sumber:B PS Kota
Surakarta, 2016
Gambar 2.3 Perbandingan Inflasi Kota Surakarta dengan Kota/kab
Lain Di Jawa Tengah dan Nasional Tahun 2015
C
Kondisi Kesejahteraan Masyarakat
Kondisi umum kemiskinan di Kota Surakarta dapat
digambarkan dengan beberapa indikator. Indikator-indikator tersebut adalah
Tingkat Kemiskinan, Jumlah Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman
Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan.
1. Tingkat
Kemiskinan
Kondisi umum kemiskinan di Kota Surakarta dapat
digambarkan dengan beberapa indikator. Indikator-indikator tersebut adalah
tingkat kemiskinan, jumlah penduduk miskin, garis kemiskinan, indeks kedalaman
kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan.
Tingkat kemiskinan Kota Surakarta pada tahun 2014 adalah sebesar 10,95 %. Capaian ini sudah cukup baik karena berada di bawah rata-rata
capaian Provinsi Jawa Tengah sebesar 10,96 % dan berada di bawah capaian Nasional yaitu 13,58%. Apabila dibandingkan dengan lima kota lainnya di Jawa Tengah
seperti Kota Magelang, Salatiga, Semarang, Pekalongan, dan Tegal, angka
kemiskinan di Kota Surakarta masih tertinggi. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada grafik di bawah ini.
![]() |
Sumber : Badan Pusat Statistik
Kota Surakarta 2016
Gambar 2.4
Perbandingan
presentase kemiskinan Kota Surakarta dengan Kabupaten/Kota Lain di Jawa Tengah
Tahun 2014
Dalam kurun waktu 2011-2014, perkembangan tingkat
kemiskinan Kota Surakarta menunjukkan tren penurunan. Tahun 2014, tingkat
kemiskinan Kota Suakarta sebesar 10,95% lebih rendah jika dibandingkan dengan
tahun-tahun sebelumnya. Tingkat kemiskinan tertinggi terjadi pada tahun 2011
dengan angka kemiskinan sebesar 12,90%. Penurunan tingkat kemiskinan searah
dengan jumlah penduduk miskin yang menurun di Kota Surakarta. Tren positif
tingkat kemiskinan Kota Surakarta ditunjukkan dari tahun 2011-2014 dengan tren menurun setiap tahunnya.Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Grafik berikut.

Sumber : BPS kota Surakarta 2016
Gambar 2.5 Grafik
Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin dan
Tingkat Kemiskinan Kota Surakarta Tahun 2011-2014
Dilihat dari sisi efektifitasnya, capaian tingkat
kemiskinan Kota Surakarta sudah terlihat efektif, meskipun penurunan capaian
tidak terlalu besar. Hal ini bisa dilihat karena dalam tahun 2011-2014 angka kemiskinan di Kota Surakarta setiap tahunnya mengalami
perbaikan. Hal ini mengindikasikan kinerja penurunan angka kemiskinan bekerja
dengan baik.Dengan menurunnya angka kemiskinan pada tahun 2014, ini menunjukkan adanya relevansi capaian
dan kinerja angka kemiskinan di Kota Surakarta terhadap target capaian angka
kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah maupun nasional.
2. Garis Kemiskinan
Garis kemiskinan terdiri atas garis kemiskinan makanan
dan non makanan.Garis kemiskinan makanan merupakan nilai pengeluaran kebutuhan
minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori per kapita
perhari.Sedangkan garis kemiskinan bukan makanan adalah kebutuhan minimum untuk
perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Pada tahun 2014, garis kemiskinan Kota Surakarta adalah
sebesar Rp.417.807, lebih tinggi jika dibandingkan dengan
rata-rata garis kemiskinan Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp.261.880. Sementara
itu apabila disandingkan dengan garis kemiskinan kota lainnya di Jawa Tengah,
garis kemiskinan Kota Surakarta terlihat paling besar. Ini menunjukkan biaya
hidup di Kota Surakarta lebih mahal jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya
di Jawa Tengah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik di bawah ini.
Sumber : Kota Surakarta Dalam
Angka, 2016
Gambar 2.6Grafik Posisi
Relatif Garis Kemiskinan Kota Surakarta Tahun 2014
Sementara itu dilihat dari perkembangannya, garis
kemiskinan di Kota Surakarta terlihat meningkat cukup signifikan dalam rentang
waktu 2011-2014. Pada Tahun 2014 garis kemiskinan di Kota
Surakarta sebesar Rp.417.807. Ada peningkatan selama kurun waktu tersebut. Lebih jelasnya dapat dilihat melalui
grafik berikut ini.

Sumber : BPS kota Surakarta 2016
Gambar 2.7
Grafik Perkembangan Garis Kemiskinan Kota Surakarta
Tahun 2014
Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan
masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan,
sandang, pendidikan, dan kesehatan). Tiga komoditi makanan yang berpengaruh
besar terhadap nilai Garis Kemiskinan baik di daerah perkotaan maupun di daerah
perdesaan adalah beras dan rokok kretek filter. Sementara itu pada urutan
ketiga, terdapat telur ayam di wilayah perkotaan dan gula pasir diwilayah
perdesaan. Komoditi bukan makanan yang berpengaruh besar terhadap Garis
Kemiskinan di daerah perkotaan adalah biaya perumahan dan pendidikan, sedangkan
di daerah perdesaan adalah biaya perumahan.
Sampai saat ini di kantor BPS kabupaten/kota tidak
menyiapkan atau menyediakan angka konsumsi yang dominan membentuk perilaku
konsumen. Untuk itu sebagai gambaran dapat disampaikan komponen-komponen yang
dominan membentuk garis kemiskinan Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut.
Tabel 2.5
Daftar
Komoditi Makanan yang Memberi Pengaruh
Besar pada Kenaikan Garis Kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014
Jenis Komoditi
|
Perkotaan (%)
|
Jenis Komoditi
|
Perdesaan (%)
|
Beras
|
25,14
|
Beras
|
32,89
|
Rokok kretek filter
|
9,68
|
Rokok kretek filter
|
8,64
|
Telur ayam ras
|
3,43
|
Gula pasir
|
3,36
|
Daging ayam ras
|
2,81
|
Telur ayam ras
|
2,77
|
Mie instan
|
2,56
|
Mie instan
|
2,42
|
Gula pasir
|
2,33
|
Tempe
|
2,00
|
Tempe
|
2,30
|
Bawang merah
|
1,82
|
Tahu
|
2,07
|
Tahu
|
1,68
|
Bawang merah
|
1,55
|
Cabe rawit
|
1,57
|
Kopi
|
1,28
|
Kopi
|
1,53
|
Sumber: BPS Jawa
Tengah, 2014
D
Pariwisata Kota Surakarta
Kota Surakarta atau yang lebih
dikenal dengan Kota Solo merupakan salah satu kota yang terkenal dengan batik
dan keratonnya di Jawa Tengah. Kota Surakarta merupakan salah satu Kota yang
kaya akan potensi sumber daya pariwisatanya. Destinasi pariwisata yang
ditawarkan di Kota Surakarta juga sangat beragam, diantaranya wisata religi,
wisata alam, wisata geologi, taman rekreasi dan beberapa desa wisata. Sosok
keraton yang menjadi simbol budaya Jawa, sampai saat ini masih kokoh eksistensinya baik secara fisik,
komunitas maupun ritualnya. Selain wisata budaya, terdapat pula beberapa tempat
dan event-event kebudayaan lain yang menarik untuk dinikmati.
Beberapa obyek wisata di
Kota Surakarta terdiri dari spesifikasi wisata budaya, wisata pendidikan,
wisata sejarah, wisata belanja, dan wisata kuliner. Wisata budaya yang dapat
dikunjungi di Kota Surakarta misalnya Wayang Orang Sriwedari, Ketoprak, Kirap
Pusaka 1 Suro, Grebeg Sudiro, Grebeg Mulud. Semua wisata budaya yang dapat
dijumpai di Kota Surakarta tersebut dipelihara dan dijaga oleh masyarakat
sebagai warisan budaya yang dimiliki Kota Surakarta. Sedangkan wisata sejarah
yang dapat dikunjungi di Kota Surakarta antara lain: Museum Radya Pustaka,
Museum Batik Wuryaningratan, Museum Reksa Pustaka, Monumen Pers, Keraton
Surakarta Hadiningrat, Pura Mangkunegaran, Benteng Vastenburg (Arsip Disbudpar Kota Surakarta: Inventaris
Data Wisata Budaya dan Wisata Sejarah Kota Surakarta tahun 2011).
Sektor pariwisata di Kota
Surakarta mempunyai potensi pertumbuhan yang sangat besar yang pengembangannya
perlu direalisasikan agar bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Pemasaran
pariwisata Kota Surakarta yang dilakukan dengan besar-besaran bisa meningkatkan
jumlah kunjungan wisata. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah
kunjungan wisata antara tahun 2010 hingga tahun 2015 yaitu meningkat dari
1.945.632 orang pada Tahun 2010 menjadi 4.142.785 orang pada Tahun 2015. Berikut data pengunjung obyek wisata di Kota
Surakarta Tahun 2012-2014.
Tabel 2.6
Banyaknya
Pengunjung Obyek Wisata di Kota Surakarta Tahun 2012-2014
No
|
Objek Wisata
|
2012
|
2013
|
2014
|
|||
Wisman
|
Wisnus
|
Wisman
|
Wisnus
|
Wisman
|
Wisnus
|
||
1
|
Kraton Kasunanan
|
810
|
47.331
|
1.504
|
66.652
|
5.251
|
63.410
|
2
|
Mangkunegaran
|
23.413
|
27.051
|
19.650
|
17.678
|
19.934
|
24.720
|
3
|
Musium Radya Pustaka
|
3.092
|
13.500
|
520
|
6.996
|
686
|
7.750
|
4
|
Taman Sriwedari
|
5.039
|
-
|
6.995
|
-
|
-
|
-
|
5
|
W.O Sriwedari
|
136
|
27.222
|
250
|
29.644
|
169
|
31.094
|
6
|
THR. Sriwedari
|
46
|
309.391
|
73
|
355.798
|
34
|
308.916
|
7
|
Musium Batik
|
1.177
|
12.601
|
1.220
|
109.417
|
1.759
|
13.275
|
8
|
Taman Satwataru
|
272.197
|
-
|
326.338
|
-
|
305.295
|
|
9
|
Taman Balekambang
|
2.084
|
1.387.832
|
288
|
1.541.665
|
782
|
2.482.002
|
Jumlah
|
35.797
|
2.097125
|
30.500
|
2.454.188
|
28.615
|
3.236.462
|
|
Sumber : Surakarta Dalam Angka, 2015
Berdasarkan
rancangan teknokratik tentang rencana induk pembangunan kepariwisataan kota surakarta tahun 2016 -2026 bahwa Kota Surakarta dibagi terbagi dalam Kawasan
Strategis Pariwisata yang selanjutnya disingkat KSP, dimana merupakan kawasan yang memiliki
fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata
Daerah yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti
pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya
dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan.

Gambar 2.8 Peta Kawasan Strategis
Pariwisata Kota Surakarta
Dalam
rangka mengembangkan potensi pariwisata di Kota Surakarta, dibutuhkan kerjasama
dan sinergitas yang baik antara berbagai pihak, termasuk di dalamnya adalah
pihak pemerintah, swasta serta masyarakat.
Analisis
Kebijakan Ekonomi Tingkat Daerah Kota Surakarta
Meningkatnya pertumbuhan sektor informal disebabkan karena tidak
membutuhkan pendidikan tinggi, modal besar atau pengalaman kerja. Dari segi
pendidikan misalnya, pada umumnya karena memiliki tingkat pendidikan menengah
ke bawah. Meskipun demikian bukan berarti tidak ada pekerja sektor informal
yang memiliki tingkat pendidikan baik. Seperti halnya peraturan
perundangundangan yang berlaku secara umum di Negara Indonesia, Provinsi serta
Kabupaten/Kota pada khususnya, Kota surakarta juga membuat suatu peraturan
perundang-undangan atau yang disebut dengan Peraturan Daerah (Perda) yang
berkaitan dengan Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL). Perda yang
dimaksud adalah Perda No. 02 Tahun 2013 tentang Penataan dan Pemberdayaan
Pedagang Kaki Lima di Kota Surakarta, Perda ini dibuat dalam rangka menata dan
menertibkan PKL yang berada di beberapa tempat strategis wilayah Kota Surakarta.
Tempat-tempat strategis yang biasa ditempati PKL tersebut seperti
pinggir-pinggir (bahu) jalan, trotoar, dan beberapa pasar yang berada di Kota
Surakarta. Perda Penataan dan Pemberdayaan PKL bertujuan untuk menjaga
stabilitas daerah berkaitan dengan kelancaran lalu lintas,stabilitas sosial
yang berkaitan dengan pemakaian fasilitas dan ruang publik seperti bahu jalan,
trotoar dan menjaga keindahan dan keasrian KotaSurakarta serta berupaya
mengatur segala bentuk kegiatan PKL baik penataan tempat maupun alokasi waktu.
Permasalahan
Utama Ekonomi Kota Surakarta Dan
Solusinya
1. Minat investasi
lebih besar pada wilayah Kota Surakarta di bagian utara dari
pada Kawasan Timur.
2. Kualitas
komoditas peternakan, pertanian,
perkebunan dan kehutanan serta produk olahannya belum optimal.
3. Inovasi
masyarakat untuk mengembangkan produk dan usaha mereka sangat kurang.
4. Kurang
terintegrasi dan berkelanjutannya program dan kegiatan yang dilakukan SKPD.
5. Kurangnya moda
transportasi umum memperlambat arus tenaga kerja, modal, barang dan jasa antar
kecamatan
Rendahnya SDM untuk
pembangunan ekonomi
Solusi menghadapi pemasalahan ekonomi:
1. Branding Kawasan Barat sebagai pusat pengembangan komoditas dan olahan
hasil perikanan dan peternakan.,Promosi Kawasan Barat sebagai Tujuan Investasi
dan Produk-produk Unggulan Potensial, Pemasangan papan promosi Kawasan Barat
dan potensinya, Membangun e-marketing.
2. Membangun sentra produksi dan pemasaran komoditas perikanan, peternakan,
pertanian, perkebunan dan kehutanan dan industri olahan di jalur utama.
3. Peningkatan kapasitas SDM agar lebih inovatif produktif sehingga mampu
menghasilkan produk yang bermutu.
4. Meningkatkan sinkronisasi dan koordinasi program dan kegiatan agar lebih
terintegrasi dan berkelanjutan serta mengikat komitmen SKPD untuk konsisten
terhadap dokumen perencanaan (RPJPD, RPJMD, RTRW, hasil-hasil kajian, hasil
musrenbang dan Forum SKPD) dengan membangun system.
5. Peningkatan infrastruktur dan moda transportasi antar kecamatan untuk
mengintegrasikan ekonomi antar kecamatan dalam satu kawasan.
6. Peningkatan kapasitas SDM agar lebih inovatif produktif sehingga mampu
menghasilkan produk yang bermutu, Pelatihan keterampilan hidup,Pelatihan
Penggunaan Teknologi Tepat Guna bagi UMKM, Sertifikasi Profesi, Peningkatan
Partisipasi Sekolah.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Angka pertumbuhan Kota Surakarta dapat dikatakan fluktuatif . Namun dari
segi anggaran dari tahun 2013-2017 , Kota Surakarta dapat dikatakan sehat atau
baik . Dikarenakan pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada
pengeluarannya. Sektor-sektor lapangan pekerjaan pun dapat dikatakan baik
karena minatnya masyarakat untuk produktif hingga angka pengangguran pun dapat
ditekan.
Hal seperti ini merupakan harapan negara agar desentralisasi untuk
selalu menyiapkan dengan segala cara dari Walikota,DPRD,MPRD,dan Masyarakat.
3.2
Saran
Mengkaji permasalahan ekonomi dari tingkat desentralisasi yang menjadi
acuan di sentralisasi . Baik dari segi kacamata mikro maupun
DAFTAR
PUSTAKA
https://surakartakota.bps.go.id/publication/2018/08/16/c3a56b56c074228d1b0e90e0/kota-surakarta-dalam-angka-2018.html

Komentar
Posting Komentar